Sabtu, 24 Oktober 2009
SIMPOSIUM NASIONAL PENDIDIKAN DASAR ISLAM
Sabtu, 11 April 2009
PEMILU BIKIN KEIMANAN RASA BABI?: SIMULAKRUM KYAI DAN MUSLIM
PENGANTAR
Pengalaman penulis mengikuti pemilu 2009 meski bukan sebagai caleg, akhirnya mendapatkan frustrasi masa depan politik yang menyedihkan. Kesimpulan penulis bahwa realitas politik kita memang sekuler terbukti. Islam sudah jadi simulakrum pikiran dan perbuatan. Simulakrum seperti dijelaskan oleh Baudrillard sebagai kenyataan yang ada di dunia ini adalah kenyataan yang tak terdefinisi lagi. Realitas yang ada adalah bentuk2 simulasi tak konkrit. Donald duck misalnya, merupakan simulasi dari bebek, padahal kita tahu donald duck bukanlah bebek, tapi simulasi kartun berbentuk bebek. Donald duck tidak pernah ada di realitas, hanya ada di media televisi, video maupun komik DIsney. Jadi, kalau bisa kita metaforakan, keislaman dalam pemilu sekarang ini, seorang caleg yang kebetulan kyai sekarang ini bukanlah kyai yang pernah ada dalam sejarah. Kyai atau Muslim sekarang dalam konteks Pemilu telah berubah menjadi Donald duck - Donald duck baru, simulasi-simulasi baru orang-orang Islam dalam perpolitikan Indonesia.
POLITIK KYAI DAN MUSLIM SEBELUM ERA REFORMASI
Perbedaan mencolok politik Islam dari politikus muslim dan para kyai di Indonesia tahun 2009 dan pemilu "80-an ke bawah dapat dilihat dari kepentingan politikus dan masyarakatnya. Ketika tahun 1980-an masyarakat mendapatkan pressure politik era Orde Baru, penguatan orientasi "guyub" masyarakat yang diwakili oleh para politikus menjadi kentara. Politikus saat itu adalah bagian dari perjuangan mempertahankan prinsip, mempertahankan eksistensi Islam dan perjuangan menegakkan "izzul Islam wal Muslimin" sebagai keseluruhan pandangan hidup termasuk dalam bidang politik. Di era itu jelas sekali sosok manusia kyai dan politikus muslim sebagai representasi politik Islam. Perlawanan yang dilakukan adalah bebas dari tekanan kekuatan politik orde baru yang mencengkeram kebebasan politik masyarakat Indonesia. Uang bukan didapatkan dari politikus untuk menyebarkan "bisyaroh" kepada masyarakat. Tetapi "shadaqah" dari masyarakat bertebaran untuk mendukung keterwakilan masyarakat Muslim di panggung politik. Masyarakat berlomba-lomba menyumbangkan rejeki yang didapatkannya untuk mendukung wakil-wakilnya untuk menyuarakan aspirasi "yang terbungkam" oleh kekuasaan otoriter. Jadi "bisyaroh" jelas-jelas tidak berfungsi sebagai dana perjuangan. Bahkan para kyai yang masih idealis akan melakukan "shadaqah berjamaah".
Berbeda dengan para kyai di partai represif memang memiliki pointers "terselubung" yang memanfaatkan politik untuk kepentingan ketentraman "bashiro" komunitasnya.Dalam hal ini memang dimungkinkan orientasi politik kyai tidak menempatkan dirinya pada posisi yang ambigu. Saya rasa strategi politik yang diambil adalah untuk mengamankan kepentingan "Jam'iyyah" agar tak tersudut bahkan tergeser sebagai akibat lanjutan serangan kaum nasionalis atas "Idealisme Jam'iyyah" yang berani berseberangan dengan kekuatan otoriter saat itu. Prinsipnya adalah Islam sebagai "ummatan wasathan" harus tetap nampak dalam situasi politik saat itu.
POLITIK KYAI DAN MUSLIM DI ERA REFORMASI
Kondisi era sebelum Reformasi menjadi terbalik dan bahkan ambigu ketika Reformasi menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Keran demokrasi begitu hiruk pikuk melanda hampir seluruh kepentingan masyarakat saat ini. Termasuk di dalamnya adalah politik Muslim dan para Kyai. Ambiguitas tersebut kemudian mengembangkan "varietas politik" baru yang belum pernah ada dalam sejarah perpolitikan Muslim Indonesia. Ambiguitas menjadi Simulakrum-simulakrum baru Kyai dan Muslim Indonesia. Sekarang sudah tidak ada lagi politik "perlawanan" sebenarnya. Politik "perlawanan" sekarang telah berubah wujud menjadi rivalitas dan oposisi politik yang masuk dalam koridor ilmu politik modern.
Tak ketinggalan para kyai dan politikus Muslim telah berubah wujud menjadi pembawa bendera politik era "neoliberalisme" yang bebas dan tak tersekat dalam bentuk perlawanan ideologis. Perlawanan ideologis menjadi "simbol" atau "sign" baru. Sign Simulakra Politik Muslim Indonesia baru. Para Kyai dan politikus Indonesia akan terlegitimasi secara politis apabila mereka dapat menyediakan dan menggerakkan emosi para kader partai sehingga mesin partai berjalan normal. Uang dalam koridor politik modern memang sebagai salah satu syarat mutlak. Seperti diketahui, kemenangan politik dalam "koridor politik modern" diukur dari keluasan jaringan, kemampuan politikus dalam mengemas ide untuk kepentingan rakyat, dan yang paling penting semuanya harus di-"drive" oleh dana yang cukup (baca: uang).
Jadi, kalau logika uang adala sebagai salah satu motor penting politik modern, maka tidak ada lagi keikhlasan politik, yang ada adalah bagaimana para politikus Muslim dan para Kyai memberi "bisyaroh" kepada para konstituen dan simpatisannya demi suara kemenangan partai politik peserta pemilu. Tidak ada lagi dikotomi politikus Muslim dan Kyai "Idealis" dan "Strategis". Politikus Muslim dan Kyai bisa berada di mana-mana dan kemana-mana sesuai dengan kepentingan yang terjalin berkelindan antara partai, masyarakat dan calegnya. Hilanglah suasana idealis yang diwujudkan dalam bentuk "shadaqah" simpatisan ataupun konstituen untuk mendukung partai yang memperjuangkan "izzul Islam wal Muslimin". Yang ada tinggallah bagaiman para politikus Muslim dan Kyai Politik bisa menyediakan "bisyaroh" masa sosialisasi, masa kampanye, bahkan sampai masa tenang (yang kemudian jadi wadah efektif melakukan gelontoran uang "bisyaroh" untuk kepentingan masyarakat). Kyai sudah tidak malu-malu lagi untuk menyeberang dari partai yang dulunya "sangat pragmatis nasionalistik" ke partai yang "idealis" karena segalanya sudah berubah. Partai tidak lagi merepresntasikan kepentingan masyarakatnya, tetapi partai dibuat untuk menyalurkan sumbatan aspirasi elitis dan kemudian menggunakan kekuatan jaringan mereka untuk mendapatkan posisi/kursi politik di dewan perwakilan rakyat (baik daerah, propinsi sampai pusat).
Yang kasihan adalah politikus idealis, jadi bahan fitnah dan cemoohan, ketika mereka tidak mau meskipun sebenarnya sanggup untuk melakukan "money politik model bisyaroh" di masa kampanye sampai masa tenang yang biasanya disebut "serangan fajar". Para politikus dan kyai idealis seperti itu sebenarnya juga mendapatkan dukungan luas, tetapi menjadi bulan-bulanan ketika para politikus "kutu loncat" dan "pragmatis" Muslim atau bahkan Kyai Politik melakukan fitnah tidak dewasa dan melakukan "money politics".
PENUTUP
Karena sudah tidak jelas lagi mana yang minyak samin dan mana minyak babi, maka yang terjadi kemudian baik politikus Muslim dan Kyai Politik melakukan praktik "dagang babi" yang jelas-jelas dianggap halal asal tetap dalam koridor tujuan akhirnya, menguasai "parlemen" untuk berjuang atas nama Islam. Jadi apakah yang kita dukung itu politikus Muslim dan Kyai Politikus Simulakrum atau politikus Muslim dan Kyai Politik yang masih mengedapankan idealisme untuk membangkitkan perjuangan "izzul Islam wal Muslimin"?
Jadi, ketika kyai dan politikus muslim yang "haus" kekuasaan masih ingin dipilih dari hasil "bisyaroh untuk masyarakat" dan menanggalkan "bashiro"-nya, maka hancurlah dunia politik Islam yang diidamkan. wallahu'a'lam
Itulah Simulakrum Keimanan Politik...
Jumat, 06 Februari 2009
LAUNCHING LEMBAGA THINK TANK EKONOMI ISLAM (CISFED) DAN BUKU AKUNTANSI SYARIAH
CISFED
Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and development
Bismillahirrahmaani
Mengundang Bapak/Ibu/Saudara:
Launching perdana CISFED
Insya Allah tanggal 11 Pebruari 2009
Pukul 10.00 - 13.00 WIB
Bertempat di Financial Club Jakarta,
Multi Function Room, Gedung Graha Niaga,
Jalan Jendral Sudirman Kav. 58 Jakarta.
Sekaligus dilakukan launching buku kedua dari Executive Director, Dr. Aji Dedi Mulawarman, yang berjudul:
AKUNTANSI SYARIAH: TEORI, KONSEP DAN LAPORAN KEUANGAN
(Gratis Buku bagi yang hadir).
ABOUT
CISFED is a Jakarta based think tank focusing on Islamic studies in finance, economics, and development. It aims to offer alternative thoughts integrating faith and science, particularly social sciences, in the above disciplines, reviving Islamic intellectual traditions in the modern world.
CISFED believes that mankind, be it in the developing or developed countries, is in need of an alternative paradigm of development, a paradigm that is more ethical, human, and just.
CISFED will produce high-quality Islamic policy research, publication, discussion, and other related activities that can provide innovative and practical policy recommendations for decision makers.
CISFED is committed to contribute in strengthening the awareness and understanding of the people on Islamic approaches in finance, economics, and development, creating references for policy makers to produce policies that can foster the economic and social welfare of the people.
Founded by young Muslim scholars and professionals from various disciplines and backgrounds, the CISFED has strength in combining classical and modern Islamic methodologies to produce high quality policy research and recommendation.
The FOUNDER
Farouk Abdullah Alwyni, CHAIRMAN
Mr. Alwyni currently is a Chairman of CISFED. He is an Islamic finance practitioner with international experience, spending eight years in a variety of professional activities at the Jeddah-based Islamic Development Bank Headquarters in Jeddah, Saudi Arabia. Currently, he is the Director of PT. Al-Ijarah Indonesia Finance, the first Joint-Venture Islamic Multi-Finance in Indonesia. He obtained his MA degree in economics from New York University, USA and MBA degree in International Banking & Finance from Birmingham Business School, the University of Birmingham, UK. He has published a number of articles related to finance, economics, development, and politics.
Aji Dedi Mulawarman, EXECUTIVE DIRECTOR
Mr. Mulawarman currently is an Executive Director of CISFED and a lecturer in the graduate program in economics at the University of Brawijaya, Malang. He obtained his Ph.D in accounting from the faculty of economics at the same university. He won for three times in a row a prestigious national award in the writing of accountancy. He combines his time for social as well as business activity. Running his own several businesses, including developing an International Islamic School of Bani Hasyim in Malang, East Java.
Masyudi Muqorobin, DIRECTOR
Mr. Muqorobin currently is a director of CISFED and the Head of the program of Economics in the University of Muhammadiyah Yogyakarta. He obtained his Ph. D. in Islamic Economics from the International Islamic University Malaysia. His activity includes lecturing in a number of universities, researching in islamic economics, and facilitating workshop and dialogue on Islamic economics and finance domestically as well as internationally.
Saat Suharto, DIRECTOR
Mr. Suharto currently is a director of CISFED and the CEO of a Jakarta-based PT. BMT Holding, a growing Islamic venture capital company. Formerly is a president director of BMT Center, an association of hundreds of Indonesia’s BMT Islamic micro finance business. He is also the Chairman of TAMZIS, a micro-financing company. His long experience in developing micro-finance business in Indonesia has inspired several parties to have more attention in islamic micro business in Indonesia.
Yusuf Hidayat, DIRECTOR
Mr. Hidayat currently is a director of CISFED and lecturer at the University of Al- Azhar Indonesia. Formerly is a student activist, he was the President of the Central Board of the Islamic Association of University Students (PB-HMI) in 1999-2001. Currently, he is a Ph. D Candidate in Islamic Business Complience in State Islamic University (UIN) Jakarta. He is also the Director of the Center on Economics and Technology Studies and has been involved in Islamic economic law research.
Nasyith Majidi, TRUSTEE
Mr. Majidi currently is a board of trustee member of CISFED and chairman of BRIGHT Indonesia, a Jakarta based independent economic think tank. He owns several business entities including financial, publishing, and education institutions.
Awalil Rizky, TRUSTEE
Mr. Rizky curently is a board of trustee of CISFED and Managing Director of BRIGHT Indonesia, a Jakarta based independent economic think tank. Former activist of student and social movement, and author of several economic books, including (with Nasyith Majidi) a nine series of Indonesian Economy: Undercover Economy.
For more information:
CISFED
Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development
South Wing Suite
Jl. Taman Ubud no.03, Embassy District Kuningan
Jakarta 12950
Phone : (021) 70917302
Email : cisfed@gmail.
Minggu, 28 Desember 2008
BUKU AKUNTANSI SYARIAH BARU: In Progress
break news,
Insya Allah saya akan menerbitkan buku AKUNTANSI SYARIAH: Teori, Konsep dan Laporan Keuangan, terbitan E-Publishing Company Jakarta. Launching perdana rencananya akan dilaksanakan Awal Pebruari 2009 bersamaan dengan pendirian lembaga think-tank ekonomi Islam,Center for Islamic Studies in Finances, Economics and Development (CISFED) di Jakarta.
Buku kedua tersebut akan melengkapi gagasan-gagasan awal saya mengenai perlunya Akuntansi Islam atau Akuntansi Syariah yang memiliki Koeksistensi Universalitas Islam dan Keindonesiaan. Secara umum buku baru ini merupakan jawaban atas pertanyaan mendasar:
"Apakah akuntansi Islam atau juga biasa disebut akuntansi syariah memang memiliki jiwa asalinya, memiliki jiwa universal sekaligus lokal?"
Universalitas berkenaan dengan akuntansi merupakan bangunan keilmuan yang diturunkan dari nilai nilai universal Islam. Sedangkan Lokalitas berkenaan dengan akuntansi sebagai ilmu tidak mungkin bebas nilai, lepas dari nilai-nilai budaya, religius, etis dan lokal.
Dalam buku tersebut akan diperlihatkan secara utuh bahwa aspek budaya, sosial, religius, etis, dan loikal sangat mempengaruhi bentuk dan "taste" akuntansi yang memiliki koeksistensi nilai universalitas Islam sekaligus nilai lokal khas Indonesia. Akuntansi syariah ber-"jiwa" universal sekaligus lokal tak dapat dipungkiri telah menjadi potret differensiasi atas akuntansi Barat yang selama ini selalu dan "sengaja" dipaksakan sebagai bebas nilai dan dapat digunakan dimanapun akuntansi diterapkan.
Buku Kedua Akuntansi Syariah ini akan memunculkan gagasan-gagasan baru. Gagasan tersebut mulai dari tujuan akuntansi syariah, konsep dasar teoritis akuntansi syariah, tujuan laporan keuangan akuntansi syariah, prinsip-prinsip dan karakter laporan keuangan syariah, sampai dengan bentuk laporan keuangan syariah yang saya sebut sebagai TRILOGI LAPORAN KEUANGAN SYARIAH.
wassalam
Minggu, 14 Desember 2008
Jumat, 12 Desember 2008
HARMONISASI AKUNTANSI INTERNASIONAL = NEOKOLONIALISME?
Berikut adalah kesimpulan dampak globalisasi pada harmonisasi akuntansi internasional yang saya kutip dari tulisan Diaconu Paul, Lecturer di Academy of Economic Studies Bucharest yang berjudul Impact of Globalization on International Accounting Harmonization (http://ssrn.com/abstract=958478):
“USA is also involved in developing international accounting standards with IASB (International Accounting Standard Board, added). Most of the countries which trade with USA prepare their accounts according to US GAAP this in turn makes US GAAP accepted not only in USA but in other countries as well. As USA being the biggest and the strongest economy in the world and its ability to control a large part of the capital market poses a great challenge for the IASB because the companies in USA using IAS (International Accounting Standards, added) issued by the IASB need reconciliation with the US GAAP. This implies that IAS cannot be adopted without the approval of FASB (Financial Accounting Standards Board, added). Furthermore IASB will have difficulties in refusing the proposals made by USA because of its heavy involvement. This will hinder the harmonization of account standards. One can argue that countries, which are economycally superior to other countries, will have their way out in setting the international accounting standards.”
Kalau diartikan secara bebas kesimpulan di atas mungkin gini:
Amerika Serikat juga terlibat dalam pengembangan standar akuntansi internasional dengan IASB. Banyak negara yang melakukan perdagangan dengan USA mempersiapkan akuntansi mereka yang sesuai dengan US GAAP atau Pedoman Akuntasi Berterima Umum di Amerika Serikat, yang hal ini berdampak pula pada penerimaan US GAAP tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di negara-negara lain yang berhubungan dengannya. USA sebagai negara yang secara ekonomi memang kuat dan besar di dunia dan kemampuannya untuk mengendalikan sebagian besar capital market posisinya sangat kuat terhadap perubahan IASB karena perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat memang menggunakan Standar Akuntansi Internasional dari IASB dan perlu direkonsiliasi dengan US GAAP. Dampaknya jelas, IAS tidak dapat diadopsi tanpa persetujuan dari FASB. Terlebih lagi IASB akan kesulitas menolak usulan dari Amerika Serikat karena keterlibatan yang sangat kuat. Hal ini pula yang menghambat harmonisasi standar akuntansi. Dapat pula diartikan di sini bahwa negara yang secara ekonomi memiliki superioritas terhadap negara lain, akan melakukan setting terhadap standar akuntansi internasional.
Jadi, gimana? Kita termasuk negara yang secara ekonomi superior atau inferior? Kalo ternyata kita secara ekonomi harus tergantung pada negara-negara lain, terutama USA dan Eropa yang superior, maka artinya harmonisasi akuntansi adalah bentuk neokolonialisme lewat globalisasi ekonomi atau neoliberalisme ekonomi……? gitu gak ya? Silakan jawab deh para standard setter di Indonesia atau para akuntan kita…
Sabtu, 20 September 2008
MERAYAKAN IDUL FITRI: MATERIALISASI KEIMANAN ATAU PUNCAK RELIGIUSITAS?
Oleh: Aji Dedi Mulawarman
Lek Salim…sang lugu dari dukuh girirembang…Sosok manusia desa dengan rejeki pas-pasan…Sedang mencari makna keikhlasan dan ketundukan pada Tuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri…Mencarilah sang lugu ke sekeliling desa…Tak puas dengan desa…Mencarilah dia ke kota yang katanya tempat segala sesuatu ada…Termasuk mencari ketundukan dan khusyu’nya ibadah…Di tengah kota dia lihat spanduk bertajuk …Mendekat Kepada Tuhan Lewat Ibadah…atau…Mencapai Ibadah Lewat Khusyu’…Setelah sang lugu mendekat spanduk…Tak kuasa dia menahan tangis…Seketika itu juga dia kangen suasana desa…Tanpa Uang dan Tanpa Harta…Tetapi setiap Kehadiran Menuju Kesadaran Ketuhanan…Hanya perlu dibayar dengan keikhlasan guru dan muridAbstraksi
Mendekati Idul Fitri gerakan masyarakat Muslim selalu mengalami gejala yang sama. Gejala tersebut dibagi menjadi 3 gejala utama. Pertama adalah gejala sosial, kedua spiritual, dan ketiga religius. Ketiga gejala tersebut kadang memiliki derivasinya dengan berbagai gejala lain sepeti gejala politik, atau saling bersinggungan antar tiga gejala tersebut. Masalahnya adalah gejala sosial yang lebih materialistik ternyata lebih menonjol perangainya dalam konfigurasi kemanusiaan masa sekarang. Tren religiusitas telah termaterialisasikan sedemikian rupa sehingga tidak lagi memiliki relevensi ketakwaan yang diinginkan sebagai Agenda Normatif Ketuhanan, yaitu Menggagas Kesadaran Berketuhanan sebagai Nilai Keutamaan dalam hidup serta Menggagas Implementasi Kesadaran Berketuhanan dalam untuk mencerahkan diri, keluarga, lingkungan sosial dan alam. Semua yang terjadi sekarang adalah bentuk materialisasi religiusitas, materialisasi spiritualitas yang mengarah pada kepentingan ego dunia...Untuk melihat sejauh mana peran ketiga gejala utama menjelang perayaan Idul Fitri berikut disampaikan perkembangan terbaru tiga gejala tersebut.
1. Gejala Sosial
Idul Fitri merupakan aktivitas yang telah menjadi budaya masyarakat. Idul Fitri telah menjadi "ikon kegembiraan" masyarakat menuntaskan agenda pribadi-komunitasnya melakukan kewajiban agama. Ikon kegembiraan setelah selesai dari kewajiban ritus puasa. Seperti kita ketahui ritus puasa dalam Islam sebenarnya secara material-batiniah berhubungan dengan menahan lapar, haus, marah, sedih, berhubungan seksual bagi suami-istri dan aktivitas-aktivitas lain yang berkenaan dengan blow-uphawa nafsu. Hawa nafsu bagi Islam tidak dilarang dalam aktivitas rutin di luar bulan ramadhan, tetapi hawa nafsu ini haruslah yang selalu dekat dengan kebaikan dan mengarah pada puncak kebaikan itu sendiri (nafs muthmainah). Ikon kegembiraan materi dihubungkan dengan belanja untuk keperluan buka puasa atau menumpuk makanan penuh "rasa" pada hari raya. Belanja pakaian dan asesories keluarga lainnyapun tak ketinggalan, seperti sepatu, jam tangan, hp, radio, tape, kendaraan bermotor, dan lainnnya. Ikon kegembiraan batin dihubungkan dengan "mudik" ke kampung halaman untuk menyalurkan kekangenan batin "nasab" atau struktur kekerabatan manusia dengan manusia lainnya.
Maka yang terjadi, dampak internalisasi Ikon Kegembiraan dalam struktur masyarakat, muncullah keriuhan di toko-toko pakaian, elektronik, pasar-pasar, mal-mal, dan tempat-tempat pemuasan nafsu manusia itu. Keriuhan penuh manusia berebut materi (baik yang murah tapi tidak penting kualitas maupun yang mahal tapi tidak penting kuantitas) dengan menebar uang sebagai alat tukarnya. Harapannya mereka menjadi makhluk-makhluk yang "bersih materi" karena telah cantik berbajukan pakaian maupun alat elektronik baru.
Di samping Ikon Kegembiraan, sekarang ini mulai muncul model-model baru yang berkenaan dengan perubahan struktur politik masyarakat pasca reformasi, yaitu desentralisasi politik. Bentuk desentralisasi politik yang paling menonjol adalah Pilkada Gubernur dan Walikota/Bupati serta anggota DPR/DPRD/DPD. Gejala sosial baru ini telah menderivasi menjadi Gejala Politik, yang berbentuk Ikon Kekuasaan. Mau tahu bentuk ikon kekuasaan? Kita lihat banyak calon-calon gubernur/walikota/bupati beramai-ramai mulai mengucapkan selamat berpuasa. Tidak menutup kemungkinan nanti pas hari raya akan muncul agenda menunggangi ikon kegembiraan masyarakat lewat iklan selamat hari raya atas nama calon-calon gubernur/walikota/bupati. Ya ini prediksi, tapi kalo ternyata tidak ada ya sudah, artinya gejala politik belum sampai pada taraf masuk menjadi Ikon Kekuasaan. Ya kan? :) . Tapi sebenarnya yang sudah banyak merebak dan menjadi gejala politik yang terderivasi dari gejala sosial adalah Safari Ramadhan. Bukan hanya bupati, walikota, gubernur, bahkan presiden/wakil persiden-pun memanfaatkan gejala politik ini....wiiii... apa ini bisa disebut sebagai bentuk materialisasi ramadhan? Nanti pasti ada bentuk materialisasi hari raya yang berbalut Ikon Kekuasaan... Iya nggak ya?
2. Gejala Spiritual
Idul Fitri merupakan aktivitas yang juga menjadi budaya masyarakat berkenaan dengan "Ikon Kesadaran" realitas sosiologis. Ikon kesadaran adalah pola tradisional yang masih melekat pada masyarakat kita, yaitu rajin berbuat baik, rajin menikmati sajian-sajian spiritual , mengurangi perselisihan, meningkatkan toleransi sosial, murah senyum,bermaaf-maafan, mengasah hati dan mendekatkan diri pada aras-aras kebenaran Tuhan. Bahkan bermaaf-maafan ini terefleksi menjadi keunikan-keunikan. Mulai dari silaturahim halal bihalal dari rumah ke rumah untuk mengucapkan mohon maaf lahir batin, silaturahim halal bihalal kolektif kantor, kampung atau kelompok sosial lainnya. Ada lagi yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia dan bahkan Melayu, yaitu kalo di daerah Malang, Jawa Timur, disebut Galak Gampil (tradisi ke rumah-rumah orang baik yang kenal atau tidak untuk bersalam-salaman dan minta maaf yang tujuannya materialistik, yaitu dapat uang riyoyo atau uang galak gampil atau sumbangan). Tetapi secara substansial, gejala spiritual ini lebih dekat pada kesadaran untuk menyelam ke dalam batin spiritual manusia, bahwa setiap manusia perlu interaksi dengan manusia lainnya untuk menjadi manusia yang asali, kembali ke fitrah. Hal ini ditandai dengan lepasnya dosa setelah permintaan maaf telah terucap dan balasan jawaban maaf juga telah tersampaikan. Inti Ikon Kesadaran ini juga yang menarik manusia-manusia di kota besar untuk pulang ke kampung halaman sebagai refleksi kesadaran sifat dasar manusia yang penuh dosa. Moga-moga galak gampil sebagai gejala spiritual tidak seperti gejala sosial yang akan terderivasi menjadi gejala politik, yang muncul menjadi Galak Gampil Politik. wakakakakak....
3. Gejala Religius
Idul Fitri juga tidak bisa lepas dari munculnya "Ikon Ketundukan" tiap individu maupun masyarakat. Aktivitas sedekah, zakat fitrah, zakat maal, shalat id, i'tikaf, dan agenda religius lainnya. Ikon ketundukan ini sebenarnya merupakan bentuk kesadaran yang terukur dengan munculnya kewajiban syari'ah yang perlu dijalankan sebagai refleksi "puasa itu adalah milik-KU" begitu titah Allah. Ikon ini bukan lagi berkenaan dengan kegembiraan materi-batin, atau kesadaran batin spiritual kemanusiaan saja. Tetapi Ikon Ketundukan adalah bentuk melampaui (beyond) materi-batin-spiritual. Itulah bentuk kepasrahan manusia untuk menjalankan apa yang menjadi titah Allah dalam Qur'an maupun syara' yang diushwahkan Rasulullah SAW. Ikon Ketundukan ini lebih bernuansa reflektif yang menghindari hiruk pikuk kegembiraan, menghindari limpah ruah materi, bahkan menghindari ketamakan batin untuk menjadi orang yang merasa diperlukan oleh orang lain karena merasa tidak bersalah, tetapi yang muda perlu minta maaf kepada yang tua misalnya. Dalam tataran ketundukan ini setiap manusia menjadi abdi Allah yang paling pasrah dan harus menegasikan segala sifat kemanusiaannya, tetapi harus menjulangkan sifat Ketuhanannya.
Apakah iya ini masih terjadi? Adakah yang bisa meyakini bahwa gejala religius masih lebih penting daripada gejala sosial di masa penuh dengan materialitas kepentingan? Artinya jaman sekarang ini memang segala sesuatunya tidak pernah lagi ukuran spiritualitas dijadikan ukuran, tetapi segala sesuatu harus diukur dengan materi. Mulai dari aktivitas atau perbuatan itu mengandung kebaikan,atau mengandung kejahatan sampai pernikahan atau perjuangan menuju sesuatu yang lebih baik. Ukurannya semua adalah materialitas. Religiusitaspun kalo perlu diukur dengan materialitas...hehehe. Bahkan religiusitas juga sekarang sudah dijadikan ukuran politik, mulai dari partai politik yang baik adalah partai yang secara material dapat menunjukkan sosok spiritualitasnya hahahahaha....ngeri....
4. Idul Fitri: Mau Beyond Kemana?
Pertanyaan atas ketiga gejala utama (sosial, spiritual, religius) dan gejala ikutannya yang berbentuk kepentingan atau politik, apakah memang telah terjalin sedemikian rupa sehingga religiusitas yang seharusnya merupakan puncak kesadaran spiritual yang melampaui kesadaran individu-sosial yang materialistik, telah dijungkirbalikkan atau terjungkirbalikkan oleh materialitas? Betapa hebatnya materialitas itu telah menghancurkan koridor-koridor kebaikan religius yang asali, yang seharusnya tidak bisa dicapai dengan membeli, alis gratis. Contohnya seperti religiusitas yang sekarang hanya bisa ditempuh dengan cara membayar. Latihan atau training spiritualitas dan religiusitas untuk mendekat kepada Tuhan hanya bisa dicapai ketika kita membayar dengan UANG dan dilaksanakan di HOTEL agar khusyu'. Betapa hebatnya dan mahalnya religiusitas sekarang, sampai-sampai untuk bisa bertemu dengan Tuhan atau mendekat kepada Tuhan, atau shalat yang khusyu' ditentukan dengan pelunasan pembayaran training.
Padahal bila kita lihat sejarah, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari atau HOS Tjokroaminoto di masa awal kesadaran nasional religius sebelum kemerdekaan, mereka bahkan kalau perlu memberi sumbangan uang dari hasil jerih payah mencari rejeki, untuk melakukan training atau penyadaran pentingnya ber-Islam untuk melawan penjajahan kolonial Belanda, Para pendiri bangsa itu berupaya dengan ikhlas tanpa kompensasi materi menyediakan diri dan harta mereka untuk melakukan penyadaran pentingnya nilai-nilai religius dan spiritual Islam sebagai dasar perjuangan kepada masyarakat. Hal ini seperti kontradiksi dengan kondisi sekarang. Penyadaran harus dibayar dengan mahal, dengan uang, para pendakwah harus dibayar atas jerih payahnya melakukan training atau penyadaran pentingnya religiusitas sebagai dasar individu dan gerakan sosial yang lebih baik.
Kalau begitu ada waktunya nanti apakah hari raya idul fitri dan puasa ramadhan harus dibeli juga dengan uang, agar hari raya dan puasa kita benar-benar bermakna religiusitas yang sebenarnya? Ada waktunya nanti masuk masjid harus membayar untuk bisa shalat khusyu' di masjid? Ada waktunya nanti berbuat baik harus membayar, dan segala sesuatu nantinya harus membayar?
Astaghfirullah, mungkin saatnya kesadaran untuk menggapai spiritualitas harusnya mulai dirubah dan didesain ulang, religiusitas perlu didudukkan kembali pada posisinya yang sakral...jangan sampai kepentingan-kepentingan selalu dihubungkan dengan materialitas. Bisakah? Mari berdoa agar religiusitas menjadi puncak kepentingan yang bebas dari kepentingan materi, tetapi memiliki kepentingan yang murni, kepentingan cinta kepada Allah semata...
Jadi? Yang paling penting bagi pendakwah/trainer/pemberi ingat individu dan masyarakat kembali ke fitrah religiusitasnya untuk menyumbangkan ilmu dan hartanya demi kebaikan individu dan masyarakatnya menjadi lebih baik? Begitukah? Atau memang sejarah telah berubah? Para pembawa panji kebenaran perlu dibayar? Kalau begitu wasiat Al Ghazali bahwa seorang guru tidak boleh meminta bayaran atas pengajaran dan pendidikannya karena ikhlas sudah tidak berlaku lagi?